Saat ini beragam kegiatan Social Movement tumbuh subur di Indonesia, sebut saja Akademi Berbagi yang dalam waktu kurang dari 2 tahun mampu menyebarkan virus “berbagi bikin happy” ke lebih dari 33 kota. Pengajar Muda yang dikelola secara professional dibawah tangan dingin Anies Baswedan, berhasil menciptakan wajah baru sistem pengiriman guru muda ke pelosok-pelosok negeri.
Di wilayah lokal, Social Movement-pun makin menjamur, mengisi ruang-ruang kosong kesenjangan sosial. Ini fenemona yang menarik bila diulas mendalam terlebih dari sisi Marketingnya.
Piramida Maslow Terbalik
Masih ingat teori klasik piramida Maslow tentang hierarki kebutuhan manusia. Abraham Maslow menggambarkan bahwa tingkatan paling dasar dari manusia adalah pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup (basic need), keselamatan dan kemananan (savety), kemudian yang tertinggi adalah aktualisasi diri (meaning). Maslow mengatakan bahwa manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan di level atas sebelum level dibawahnya terpenuhi.
Namun teori tersebut sangat bertolak belakang dengan fenomena Social Movement yang terjadi di negara kita. Social movement justru digerakan oleh anak muda yang baru memulai memenuhi kebutuhan dasarnya. Mereka bergerak karena keinginan untuk “Tampil” sebagai penolong masyarakat dalam memperpendek jarak kesenjangan. Ini sudah berada dalam takaran Meaning, para penggiat pergerakan sosial cenderung memikirkan kebutuhan masyarakat banyak ketimbang kebutuhan mereka sendiri.
Menurut Zohar, manusia dengan kreatifitas akan mengubah dunia, tidak peduli apakah kebutuahnnya sudah terpenuhi atau belum. Manusia di era social media, semuanya dapat menjadi Media Company bagi dirinya sendiri. Apa yang mereka inginkan, mereka dapat lakukan dan menyebarkannya keberbagi arah.
Yang menarik adalah Zohar mengungkapkan bahwa sebelum Maslow meninggal dia menyesalkan teorinya sendiri dan merasa bahwa piramida tersebut seharusnya terbalik. Hal dasar dari seorang manusia adalah Aktulisasi diri, bukan lagi Basic Need untuk urusan perut.
Revolusi New Wave Marketing
Sebelum tahun 2000, marketing seakan-akan kehilangan arah dan pegangan. Kebosanan masa setelah satu dekade selalu disuguhkan dengan broadcast marketing yang hanya cocok di era revolusi industry. Masa disuguhkan dengan produk-produk masal dengan marketing yang bersifat vertical.
Akademi berbagi menerapkan New Wave Marketing untuk bisa berkembang dari segi kualitas dan kuantitas kegiatan. Dimana inti dari marketingnya adalah nilai-nilai yang ada didalam internal mereka dan melihat pasar sebagai manusia seutuhnya dengan pikiran, hati serta spirit yang tinggi. Tak elak, pemasarnya bukan lagi dari internal mereka, tapi justru penikmat nilai-nilai mereka (consumer).
New Wave Marketing, menitik beratkan pada isu-isu global yang dibawa dalam menyampaikan pesan. Melakukan co-creation many to many dan melibatkan consumer untuk bersama-sama membangun brand. Semuanya harus dibangun tanpa “Politik” yang berbau kepentingan sesaat. Brand harus dengan jujur, tulus dan terbuka kepada consumernya.
Yang perlu diingat, consumer saat ini sangat jauh berbeda dengan consumer sebelumnya. Knowledge mereka semakin tinggi dan saling terhubung satu sama lain dengan mudah. NEW CONSUMER, NEW STRATEGY
Dikuasai Anak Muda
Lihatlah perusahaan-perusahaan besar di Indonesia yang telah melakukan revolusi nilai-nilai internal, mereka dapat berkembang dengan hebat dan semakin kuat positioningnya. Mereka mencari bibit muda terbaik untuk memajukan perusahaan. Alasannya sederhana, anak muda inilah yang masih memiliki kejujuran, ketulusan dan keterbukaan untuk mendengar dan mendengarkan. Inilah yang harus dimiliki oleh Brand dikala marketing sudah bersifat HORIZONTAL
Anak muda lebih mengerti kondisi masyarakat yang kini telah dikuasai oleh generasinya. Generasi yang semakin knowledgeable dan more connected. Generasi dengan kebutuhan dasarnya adalah Aktualisasi diri, ingin dilibatkan secara personal untuk kemajuan Brand yang mereka gunakan.
Selamat datang di era NEW WAVE MARKETING, DRIVEN VALUE MARKETING. Apapun bisnis anda bangunlah bersama consumer dengan ketulusan.







